LEMBAR
PENGESAHAN
Judul Praktikum :
Penggunaan ArcView 3.3
Tanggal :
25 Maret 2013
Nama :
Charolina Kaban
NIM :
110302057
Program Studi :
Manajemen Sumberdaya Perairan
Diperiksa Oleh :
Asisten Korektor
NIM . 100302041
KATA
PENGANTAR
Puji
dan syukur Penulis sampaikan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat
dan karuniaNya Penulis dapat menyelesaikan laporan praktikum Sistem Informasi
Sumberdaya Perairan yang berjudul “Penggunaan
ArcView 3.3”. Laporan ini dibuat untuk membahas tentang penginstalan dan
penggunaan software ArcView 3.3.
Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada bapak
Zulham Apandi Harahap S.Pi, M.Pi selaku dosen penanggung jawab Praktikum Sistem
Informasi Sumberdaya Perairan. Ucapan terima kasih juga Penulis sampaikan
kepada para asisten laboratorium yang telah membimbing Penulis dan rekan-rekan
mahasiswa yang telah banyak memberikan masukan untuk laporan praktikum ini.
Demikianlah Laporan
praktikum ini dibuat dan semoga bermanfaat. Terima kasih.
Medan,
Maret 2013
Penulis
DAFTAR
ISI
LEMBAR
PENGESAHAN.............................................................................
i
KATA
PENGANTAR.....................................................................................
ii
DAFTAR
ISI..................................................................................................... iii
BAB
I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang........................................................................................
1
1.2 Tujuan...................................................................................................... 2
BAB
II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 ArcView.................................................................................................. 3
2.2 Bagian- Bagian ArcView........................................................................ 4
BAB
III METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat.................................................................................. 6
3.2 Alat dan Bahan....................................................................................... 6
3.2 Langkah kerja.......................................................................................... 6
DAFTAR
PUSTAKA
Mata
Kuliah SIG
|
Nilai
|
Praktikum ke-II
Asisten :
Sabilah Fi Ramadhani
NIM.
100302041
PENGGUNAAN ARCVIEW 3.3
Oleh:
CHAROLINA
KABAN
110302057
MANAJEMEN
SUMBERDAYA PERAIRAN
LABORATURIUM
SISTEM INFORMASI SUMBERDAYA PERAIRAN
PROGRAM
STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
MEDAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Sistem
informasi adalah sekumpulan komponen yang saling berhubungan yang mengumpulkan,
mengolah, menyimpan, dan menyeberkan informasi untuk pengambilan keputusan,
koordinat, kontrol, analisis dan visualisasi dalam organisasi (Wahyuni,2009).
Sistem Informasi Georafis atau Georaphic
InformationSistem (GIS) merupakan suatu sistem informasi yang berbasis
komputer, dirancang untuk bekerja dengan menggunakan data yang memiliki
informasi spasial (bereferensi keruangan). Sistem ini mengcapture,
mengecek, mengintegrasikan, memanipulasi, menganalisa, dan menampilkan data
yang secara spasial mereferensikan kepada kondisi bumi. Teknologi SIG
mengintegrasikan operasi-operasi umum database, seperti query dan
analisa statistik, dengan kemampuan visualisasi dan analisa yang unik yang
dimiliki oleh pemetaan. Kemampuan inilah yang membedakan SIG dengan Sistem
Informasi lainya yang membuatnya menjadi berguna berbagai kalangan untuk
menjelaskan kejadian, merencanakan strategi, dan memprediksi apa yang terjadi
(Aini,2007).
GIS (Geographic
Information System) merupakan suatu alat yang dapat digunakan untuk mengelola
(input, manajemen, proses dan output) data spasial atau data yang bereferensi
geografis. Setiap data yang merujuk lokasi di permukaan bumi dapat disebut
sebagai data spasial bereferensi geografis. Misalnya data kepadatan penduduk
suatu daerah, data jaringan jalan, data vegetasi dan sebagainya (Maulana,2009).
Geographic Information System (GIS) atau Sistem Informasi
Geografis (SIG) sebagai suatu sistem yang berorientasi operasi secara
manual, yang berkaitan dengan operasi pengumpulan, penyimpanan
dan manipulasi data yang bereferensi geografi secara konvensional
(Aini, 2007).
Sistem Jaringan Drainase perkotaan dapat
juga memanfaatkan teknologi informasi yang sedang berkembang saat ini, salah
satu sistem informasi tersebut adalah Sistem Informasi Geografis (SIG) atau Geographical
Information System (GIS) yaitu suatu sistem informasi yang didesain untuk
bekerja dengan data yang berrefensi pada spatial atau koordinat geografis
(Rachmawati,2010).
Sistem Informasi Geografis yang terdiri
dari perangkat lunak, perangkat keras, maupun aplikasi-aplikasinya, telah dikenal
secara luas sebagai alat bantu (proses) pengambilan keputusan. Sebagian besar
institusi pemerintah, swasta, akademis maupun non akademis juga individu yang
memerlukan informasi yang berbasiskan data spasial telah mengenal dan
menggunakan sistem ini. Perkembangan ini diikuti oleh membanjirnya produk
teknologi SIG di pasar-pasar Indonesia, demikian cepat arus datangnya
produk-produk teknologi sistem informasi yang multi-disiplin ini sudah
sepatutnya juga diikuti pula dengan kemampuan dalam memahami pengertian sistem,
data dan informasi, sistem informasi, sistem informasi geografis agar bisa
mengimbangi kecepatan perkembangan teknologinya (Aini,2007).
1.1 Tujuan
Adapun
tujuan dari praktikum Sistem Informasi Sumberdaya Perairan adalah Untuk mengetahui cara penginstalan
dan penggunaan program Arcview 3.3 dan
Global Mapper didalam laptop dan komputer.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Arc View
Sejak
1981, ESRI (Environmental System Reserach Institute) Inc. mengenalkan model
data berorientasi objek dikenal data coverage dan model database georelasional,
yang merek komersial dagangnya dikenal sebagai arcinfo.
Selanjutnya sekitar tahun 2000 dikenalkan generasi lanjut berupa model data
geodatabase, atau dikenal komersial sebagai arcview/arcGIS (Darmawan, 2011).
Arcview merupakan sebuah software
pengolahan data spasial. Software ini memiliki berbagai keunggulan yang dapat
dimanfaatkan oleh kalangan pengolah data spasial. Arc view memiliki kemampuan
dalam pengolahan atau editing arc, menerima atau konversi dari data digital
lain seperti CAD, atau dihubungkan dengan data image seperti format .JPG,
.TIFF, atau image gerak (Budiyanto, 2005).
2.2 Bagian-Bagian
ArcView
Beberapa
bagian Arcview yang cukup penting antara lain adalah :
a.
Project
Merupakan
kumpulan dari dokumen yang berasosiasi selama satu sesi Arcview. Setiap project
memiliki lima komponen pokok yaitu views, tables, charts, layouts dan scripts.
b.
Theme
Arcview
mengendalikan sekelompok feature serta atribut di dalam sebuah theme dan
mengelolanya di dalam sebuah views. Sedangkan theme menyajikan sekumpulan obyek
nyata sebagai feature peta yang berhubungan dengan atribut.
c.
Views
View
merupakan sebuah peta interaktif yang dapat digunakan untuk menampilkan,
memeriksa, memilih dan menganalisa data grafis. View tidak menyimpan data
grafis yang sebenarnya, tetapi hanya membuat referensi tentang data grafis mana
saja yang terlibat.
d.
Table
Tabel
digunakan untuk menampilkan informasi tentang fature yang ada di dalam suatu
view.
e.
Chart
Chart
merupakan sebuah grafik yang menyajikan data tabular. Di dalam Arcview chart
terintegrasi penuh dengan tabel dan view sehingga dapat dilakukan pemilihan
record-record mana yang akan ditampilkan ke dalam sebuah chart. Terdapat enam
jenis chart yaitu area, bar, column, p dan scatter.
f.
Layout
Layout
digunakan untuk mengintegrasikan dokumen (view, table, chart) dengan
elemen-elemen grafik yang lain di dalam suatu window tunggal guna membuat peta
yang akan dicetak.
g.
Script
Script
merupakan sebuah bahasa pemrograman dari Arcview yang ditulis ke dalam bahasa
Avenue (Anonymous, 2009).
Arc
view dapat menerima berbagai macam sumber data yang selanjutnya akan diolah.
Secara langsung Arc view dapat menerima data vector yang berasal dari software
Are In o. Sumber-sumber data lain adalah data yang berasal dari :
·
Citra satelit dengan format BSQ, BIL, BIP
·
Data raster dengan format BMP, JPG, TIFF
·
Data ERDAS
·
Data tabular dari Arc info, dBase (Budiyanto, 2005).
Sebagian
besar data yang akan ditangani dalam SIG merupakan data spasial yaitu sebuah
data yang berorientasi geografis, memiliki sistem koordinat tertentu sebagai
dasar referensinya dan mempunyai dua bagian penting yang membuatnya berbeda
dari data lain, yaitu informasi lokasi (spasial) dan informasi deskriptif
(attribute) yang dijelaskan berikut ini :
1. Informasi lokasi (spasial), berkaitan dengan suatu koordinat baik koordinat geografi (lintang dan bujur) dan koordinat XYZ, termasuk diantaranya informasi datum dan proyeksi.
2. Informasi deskriptif (atribut) atau informasi non spasial, suatu lokasi yang memiliki beberapa keterangan yang berkaitan dengannya, contohnya : jenis vegetasi, populasi, luasan, kode pos, dan sebagainya (Anonymous, 2010).
1. Informasi lokasi (spasial), berkaitan dengan suatu koordinat baik koordinat geografi (lintang dan bujur) dan koordinat XYZ, termasuk diantaranya informasi datum dan proyeksi.
2. Informasi deskriptif (atribut) atau informasi non spasial, suatu lokasi yang memiliki beberapa keterangan yang berkaitan dengannya, contohnya : jenis vegetasi, populasi, luasan, kode pos, dan sebagainya (Anonymous, 2010).
Data spasial adalah gambaran nyata
suatu wilayah yang terdapat di permukaan bumi. Umumnya direpresentasikan berupa
grafik, peta, gambar dengan format digital dan disimpan dalam bentuk koordinat
x,y (vektor) atau dalam bentuk image (raster) yang memiliki nilai tertentu (Anonymous, 2009).
Informasi
spasial, secara geometri tersedia dalam dua model, yakni model data vektor yang
berbentuk point, line dan polygon dan
model data raster yang secara sistimatis terorganisasi dalam bentuk sel grid
atau piksel (Elly, 2009).
Format Data Spasial dalam SIG dapat
direpresentasikan dalam dua format, yaitu:
1. Vektor
Dalam data format vektor,
bumi kita direpresentasikan sebagai suatu mosaik dari garis (arc/line), polygon
(daerah yang dibatasi oleh garis yang berawal dan berakhir pada titik yang
sama), titik/point (node yang mempunyai label), dan nodes (merupakan titik
perpotongan antara dua buah garis). Keuntungan utama dari format data vektor
adalah ketepatan dalam merepresentasikan fitur titik, batasan dan garis lurus.
Hal ini sangat berguna untuk analisis yang membutuhkan ketepatan posisi,
misalnya pada basisdata batas-batas kadaster. Contoh penggunaan lainnya adalah
untuk mendefinisikan hubungan spasial dari beberapa fitur. Kelemahan data
vektor yang utama adalah ketidakmampuannya dalam mengakomodasi perubahan
gradual (Purwantara, 2010).
Hal yang mendasar adanya
data vector ini berasal dari suatu anggapan bahwa dunia nyata dapat dibagi ke
dalam unsur-unsur yang secara jelas bias didefinisikan. Tiap-tiap unsur itu
terdiri atas sejumlah objek yang mudah diidentifikasi menurut geometrinya
apakah berbentuk point, line atau area (Elli,
2009).
2. Raster
Data raster (atau disebut
juga dengan sel grid) adalah data yang dihasilkan dari sistem Penginderaan
Jauh. Pada data raster, obyek geografis direpresentasikan sebagai struktur sel
grid yang disebut dengan pixel (picture element). Pada data raster, resolusi
(definisi visual) tergantung pada ukuran pixel-nya. Dengan kata lain, resolusi
pixel menggambarkan ukuran sebenarnya di permukaan bumi yang diwakili oleh
setiap pixel pada citra. Semakin kecil ukuran permukaan bumi yang
direpresentasikan oleh satu sel, semakin tinggi resolusinya. Data raster sangat
baik untuk merepresentasikan batas-batas yang berubah secara gradual, seperti
jenis tanah, kelembaban tanah, vegetasi, suhu tanah, dsb. Keterbatasan utama
dari data raster adalah besarnya ukuran file; semakin tinggi resolusi grid-nya
semakin besar pula ukuran filenya (Purwantara, 2010).
Sumber data
Spasial salah satu syarat SIG adalah data
spasial, yang dapat diperoleh dari beberapa sumber antara lain :
1.
Peta Analog
Peta analog (antara lain peta topografi,
peta tanah dan sebagainya) yaitu peta dalam bentuk cetak. Pada umumnya peta
analog dibuat dengan teknik kartografi, kemungkinan besar memiliki referensi
spasial seperti koordinat, skala, arah mata angin dan sebagainya. Dalam tahapan
SIG sebagai keperluan sumber data, peta analog dikonversi menjadi peta digital
dengan cara format raster diubah menjadi format vektor melalui proses digitasi sehingga
dapat menunjukan koordinat sebenarnya di permukaan bumi.
2.
Data Sistem Penginderaan Jauh
Data Penginderaan Jauh (antara lain
citra satelit, foto-udara dan sebagainya), merupakan sumber data yang
terpenting bagi SIG karena ketersediaanya secara berkala dan mencakup area
tertentu. Dengan adanya bermacam-macam satelit di ruang angkasa dengan
spesifikasinya masing-masing, kita bisa memperoleh berbagai jenis citra satelit
untuk beragam tujuan pemakaian. Data ini biasanya direpresentasikan dalam
format raster.
3.
Data Hasil Pengukuran Lapangan
Data pengukuran lapangan yang dihasilkan
berdasarkan teknik perhitungan tersendiri, pada umumnya data ini merupakan
sumber data atribut batas hak pengusahaan hutan dan lain-lain.
4.
Data GPS (Global Positioning System)
Teknologi GPS memberikan terobosan
penting dalam menyediakan data bagi SIG. Keakuratan pengukuran GPS semakin
tinggi dengan berkembangnya teknologi. Data ini biasanya direpresentasikan
dalam format vektor. Pembahasan mengenai GPS akan diterangkan selanjutnya.
5.
Peta, Proyeksi Peta, Sistem Koordinat, Survey dan GPS
Data spatial yang dibutuhkan pada SIG
dapat diperoleh dengan berbagai cara, salah satunya melalui survei dan pemetaan
yaitu penentuan posisi/koordinat di lapangan.
6.
Peta
Peta adalah gambaran sebagian atau
seluruh muka bumi baik yang terletak di atas maupun di bawah permukaan dan
disajikan pada bidang datar pada skala dan proyeksi tertentu (secara
matematis). Karena dibatasi oleh skala dan proyeksi maka peta tidak akan pernah
selengkap dan sedetail aslinya (bumi), karena itu diperlukan penyederhanaan dan
pemilihan unsur yang akan ditampilkan pada peta.
7.
Proyeksi Peta
Pada dasarnya bentuk bumi tidak datar
tapi mendekati bulat maka untuk menggambarkan sebagian muka bumi untuk
kepentingan pembuatan peta, perlu dilakukan langkah-langkah agar bentuk yang
mendekati bulat tersebut dapat didatarkan dan distorsinya dapat terkontrol, untuk
itu dilakukan proyeksi ke bidang datar (Anonymous, 2009).
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Sistem Informasi Sumberdaya Perairan ini
dilakukan pada hari Senin tanggal 25 Maret
2013
Pukul 13.00-13.20 WIB yang bertempat di
laboratorium Manajemen Sumberdaya Perairan Terpadu Universitas Sumatera Utara.
3.2 Alat dan Bahan
Adapun
alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah laptop, dan bahan yang digunakan
adalah Software ArcView
3.3 Langkah–Langkah Kerja
·
Langkah-langkah
menambah toolbar
1. Buka
Arc View 3.3 → Pilih with a new view
2.
Kemudian
muncullah lembar kerja baru
3. Klik
file di menu toolbar → pilih extension
4.
Aktifkan 3D Analyst,
Geoprocessing, Graticules and Measured Grids, Image Analyst, dan Spatial
Analyst → OK
5.
Bertambah lah icon-icon
pada toolbar
·
Langkah-langkah
memanggil data
6. Klik
Add Theme pada toolbar
7.
Cari dimana data
Shapefile disimpan → klik 2x pada folder shapefile
8.
Block semua data pada
folder Shapefile → OK
9. Kemudian
muncul layer sebelah kiri
10.
Ceklist semua kotak
kecil kecil di layer
11.
Kemudian akan muncul
peta Indonesia
·
Langkah-langkah
menghapus layer
12. Block
layer yang mau di hapus (disisain 2 yaitu kabupaten dan Peta Indonesia
13.
Klik Edit pada menu bar
14.
Pilih Delete Themes →
yes
·
Langkah-langkah
membesarkan peta
15. Klik
Zoom to Active Theme pada toolbar
·
Langkah-langkah
mengedit peta
16.
Pada layer di sebelah
kiri diklik 2x
17.
Klik symbol 2x untuk
mengedit
18.
Edit peta dengan
mengganti warna, dasar contour peta, dan simbol-simbol
19.
Klik apply untuk
menerapkan pengaturan editan terhadap peta
·
Langkah-langkah
membedakan menurut Kecamatan
20. Klik
layer 2x → kemudian muncul kotak dialog Legend Editor
21.
Ganti Legend Type
dengan Unique Value
22.
Ganti Value Field
dengan Kecamatan → apply
23.
Hasil dari pembedaan menurut kecamatan
·
Langkah-langkah
memunculkan nama-nama dari Kecamatan
24. Pilih
Themes pada menu bar
25.
Pilih Auto-label
26. Muncul
kotak dialog auto-label → Ganti Label-field dengan Kecamatan
27.
Klik OK
·
Langkah-langkah
menghapus nama kecamatan
28. Pada
toolbar klik icon Pointer
29.
Block nama-nama
Kecamatan di peta
30.
Kemudian tekan delete
di keyboard
Aini, A. 2007.
Sistem Informasi Geografi. http://www.p3m.amikom.ac.id.
( diakses pada tanggal
22 Maret 2013).
( diakses pada tanggal 22 Maret 2013).
Budiyanto,
E. 2005. Sistem Informasi Geografis
Menggunakan Arc View GIS. C.V Andi. Yogyakarta.
Darmawan, M. 2011. Sistem Informasi Geografi (SIG) dan Standarisasi Pemetaan Tematik. http://jurnal.ac.id
( diakses
pada tanggal 27 Maret 2013).
Elly. M. 2009. Sistem Informasi Geografi. Garaha Ilmu. Yogyakarta.
( diakses pada tanggal
22 Maret 2013).
( diakses pada tanggal 17
Maret 2013).
Rachman, A. 2008. Pengolahan data spasial reklame
menggunakan arcview 33.
( diakses pada tanggal 22
Maret 2013)
Rachmawati, A. 2010. Aplikasi SIG untuk
evaluasi sistem jaringan drainase disub
( diakses pada
tanggal 22 Maret 2013)
( diakses pada tanggal
22 Maret 2013).